Pagi yang seharusnya membawa kesegaran di pusat kota Jakarta justru terasa seperti awal dari sebuah eksekusi publik yang megah. Di depan lobi utama Menara Vance yang menjulang angkuh, puluhan kendaraan stasiun televisi nasional dan internasional terparkir dalam barisan yang rapi, dengan kabel-kabel hitam besar yang menjalar seperti tentakel monster yang siap menyedot setiap tetes skandal dari udara. Clifford Vance telah mengubah lobi kantornya menjadi teater penghakiman. Sebuah panggung setinggi setengah meter telah didirikan dengan latar belakang logo Vance Enterprises yang bersanding secara ironis dengan bendera nasional, menciptakan ilusi bahwa apa yang akan ia lakukan adalah sebuah tindakan patriotik demi moralitas bangsa. Clifford berdiri di ruang tunggu VVIP, merapikan dasi sutranya

