Malam di Jakarta seharusnya menjadi waktu bagi denyut kota untuk melambat, namun di dalam menara kaca Vance Enterprises, Clifford Vance sedang menyusun simfoni kehancuran yang paling bising dalam sejarah korporasi Indonesia. Ia berdiri di depan deretan layar yang menampilkan tren topik global; nama Hayes Ludwig kini bukan sekadar pembicaraan di meja makan, melainkan sebuah label yang diasosiasikan dengan skandal moral terdalam abad ini. Clifford tersenyum tipis, sebuah seringai yang memancarkan kepuasan predator saat melihat rencananya membuahkan hasil yang jauh melampaui ekspektasinya. Ia baru saja menyelesaikan koordinasi dengan tim operasional media gelapnya untuk memastikan bahwa kegaduhan yang dialami Hayes di lobi gedung tadi siang bukanlah akhir dari drama, melainkan baru sekadar b

