69. Ada Prioritas Lain

919 Words

Langkah kaki Kairav terasa sangat berat saat melewati koridor menuju Ruang 517. Suara tawa dari dalam markas ArtBeat yang biasanya menjadi penyemangat, kini terdengar seperti lonceng kematian baginya. Kairav berhenti di depan pintu, mengatur napasnya yang sesak, dan mencoba memasang topeng paling tenang yang ia punya. ​Begitu pintu dibuka, suasana riuh menyambutnya. Garvi sedang berdiri di atas kursi sembari memegang penggaris panjang seperti tongkat dirigen, memandu Shaila dan Anasera yang sedang mencoba menyusun properti panggung. Di sudut lain, Baskara sedang fokus dengan laptop dan kabel-kabelnya. ​“Nah! Ini dia Sang Produser kita datang!” teriak Garvi heboh. “Dari mana aja lo, Kai?Tadi gue ketemu si Argo, temen satu bimbingan lo, dia bilang lo nganterin Nadira ke klinik? Sakit apa s

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD