31. Tidur Bersama

1712 Words

Untuk beberapa detik, dunia seperti berhenti. Kairav hanya berdiri di sisi ranjang, membeku. Tatapannya menempel pada Aruby yang baru saja menggeser tubuhnya, memberi ruang yang jelas—ruang yang ditawarkan untuknya. Ia bahkan lupa menarik napas. “By…” suaranya keluar lebih pelan dari yang ia maksud. Hampir seperti bisikan yang tersangkut di tenggorokan. “Kamu bilang apa barusan?” Aruby yang tadinya menatap lantai, kini perlahan mengangkat wajah. Wajahnya merah. Bukan merah marah, tapi merah malu campur gugup campur entah apa lagi. Ia tersenyum tipis. “Aku percaya kamu nggak akan mungkin aneh-aneh.” “Jangan di sofa. Nanti leher kamu sakit, Kai,” tambahnya lagi. Trian, adek lo bener-bener bahaya banget, ujar Kairav dalam hati. Ia kemudian menghela napas. “Oke ... kamu tidur duluan a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD