Lampu-lampu taman di sekitar gedung Fakultas Ilmu Komunikasi memantul hangat di genangan air akibat hujan sore tadi. Udara malam yang lembap, membawa sisa aroma kopi dan cat semprot dari studio desain di lantai bawah.
Aruby melangkah keluar dari gedung dengan napas lega karena rapat team produksi Artbeat barusan berakhir dengan lancar. Bahkan Kairav yang kemarin-kemarin sangat muak dengan hadil kerjanya, kali ini akhirnya setuju dengan revisi layout-nya.
Satu hal kecil yang berhasil di tengah seminggu yang terasa panjang dan melelahkan.
Bersamaan dengan itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Edo.
Eduardo❤
Udah kelar rapatnya, Sayang? Aku udah di parkiran, ya.”
Senyum senang muncul di wajah Aruby. Malam ini mereka punya agenda menonton film dan dinner romatis — janji kecil yang Edo berikan karena pertikaian mereka tempo hari. Sebenarnya, Aruby masih kesal namun ia juga tidak akan memperburuk keadaan dan membiarkan Edo lebih lama menghabiskan waktu dengan Imelda—mantan yang selalu mengusik kehidupan asmara Edo dengannya dengan berbagai cara.
Aruby mempercepat langkah, menuruni tangga melewati taman kecil yang kini sepi padahal biasanya masih lumayan ramai. Mungkin karena hujan sore tadi, mungkin juga karena ini penghujung weekend yang mana banyak dari mereka memutuskan untuk menikmati malam mingguan dibanding terjebak di kampus dengan banyak pekerjaan.
Begitu sampai di parkiran, Aruby langsung melihat mobil abu-abu yang terparkir di bawah lampu sodium. Edo bersandar di pintu, tampak tampan memakai hoodie hitam dan celana jeans, rambutnya agak berantakan tapi tetap rapi dengan caranya sendiri.
“Hey,” sapa Aruby sambil tersenyum.
Edo menegakkan badan, senyum tipis muncul di wajahnya. “Hey. Capek banget, ya? Wajah kamu kelihatan lelah,” katanya sambil meraih satu tangan Aruby, menggenggamnya.
“Lumayan. Tapi layout publikasi udah selesai. Kairav akhirnya setuju. Jadi, bisa dibilang hari ini... aman,” jawab Aruby dengan nada lega.
“Jadi, kita bisa menikmati waktu kita malam ini tanpa ada gangguan?”
“Sure,” ujar Aruby dengan senyum yang semakin mengembang.
Edo membalas senyuman itu, ia mencium pipi Aruby kemudian menegakkan tubuhnya dan membukakan pintu mobil untuk Aruby. Namun, sebelum sempat masuk, ponsel Edo lebih dulu berbunyi.
Saat melihat nama Imelda muncul di layar, wajah Edo refleks berubah sedikit tegang. Aruby meenyadarinya. Ia memperhatikan kekasihnya itu.
Edo menatap Aruby, sempat ragu beberapa detik seolah meminta izin sebelum kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
“Halo, Mel?”
Suara di seberang terdengar pelan tapi penuh tekanan.
“Do... aku—maaf banget, aku ganggu. Asam lambungku kambuh... sakit banget. Aku di kos sendirian... bisa tolong anter ke klinik? Aku gak kuat nyetir...”
Nada Imelda bergetar, lemah. Cukup meyakinkan buat siapa pun yang mendengar.
Aruby masih menatap Edo. Wajah cowok itu berubah drastis. Panik. Penuh rasa kasihan.
Aruby menghela napasnya lelah. Jika sudah berhubungan dengan Imelda, ia yakin tidak akan ada yang berjalan baik pun dengan rencana mereka malam ini. Sudah dipastikan tidak akan terlaksana.
“Jadi pergi, kan? Do?” tanya Aruby basa-basi. Nadanya datar, tidak se-excited tadi.
“By, aku... kayaknya harus ke tempat Imelda dulu. Dia kambuh. Sendirian.”
“Terus?”
“Dia butuh aku sekarang.”
“Filmnya kita tunda, ya. Aku anter dia ke klinik dulu.”
Aruby mematung. Semua rasa lega barusan menguap begitu saja.
“Edo.”
“Sayang, aku tahu kamu kesel, tapi—”
“Enggak,” potong Aruby cepat, suaranya meninggi sedikit. “Kamu pikir aku gak capek juga hari ini? Kamu pikir aku gak butuh ditemenin juga? Kamu udah janji loh, Do, sama aku.”
“By, ini beda—dia lagi sakit.”
“Dia mantan kamu, Edo. Mantan.”
“Aku cuma nolong.”
“Memangnya enggak ada orang lain yang bisa dimintain tolong selain kamu? Kenapa sih harus kamu?”
“By....”
“Selalu kayak gitu, kan? Tiap kali ada dia, aku selalu harus ngerti, harus ngalah, harus sabar. Sebenernya yang pacar kamu tuh aku atau dia, sih?!”
Suara Aruby pecah sedikit di ujung kalimat. Untunglah suasana parkiran itu sepi sehingga suaranya tidak mengundang perhatian banyak pasang mata.
Edo mendesah, setengah frustrasi. “Kamu pacar aku, By. Jelas. Semua orang tahu. Tapi sekarang keadaannya darurat. Imelda butuh aku sekarang. Aku minta maaf, okay? Aku janji ini yang terakhir. Ya, sayang?”
“Aku pergi dulu, nanti aku kabarin. Ya?”
“Pergi aja. Segimana pun aku larang, kamu enggak akan denger juga,” kata Aruby pelan, nadanya dingin. “Gak usah kabarin. Aku nggak butuh kabar kamu.”
Edo menatapnya sejenak seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi akhirnya urung. Ia mengusap pipi Aruby sekilas kemudian berjalan masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan pergi.
Benar-benar pergi meninggalkan Aruby dan janji mereka malam ini.
Eduardo benar-benar menemui mantannya alih-alih menemani Aruby.
Pria itu, lagi-lagi mengingkari janji, untuk yang kesekian kali.
Ia ... meninggalkan Aruby dengan luka yang kembali menganga.
Suara mesin mobil abu-abu itu perlahan memudar di antara deretan kendaraan lain. Lampu belakangnya menembus kabut tipis, membentuk dua garis merah yang kian lama kian kecil—sampai akhirnya lenyap di tikungan.
Aruby masih berdiri di tempat, di bawah cahaya lampu parkir yang kuning redup. Angin malam menyapu ujung rambutnya, membawa aroma tanah basah yang belum sepenuhnya kering setelah hujan sore tadi.
Sial. Dingin malam tiba-tiba terasa begitu menusuk. Bukan karena angin, tapi karena perasaan ditinggalkan yang sudah terlalu sering menemuinya dalam rupa berbeda.
Dadanya terasa begitu nyeri, seperti diremas kuat tanpa henti. Ia menggigit bibir, menunduk, menatap pantulan dirinya di genangan air di bawah sepatu. Wajahnya terlihat lelah—dan bodoh.
Benar, lagi-lagi Aruby harus menjadi pihak yang kalah bahkan ketika pria itu jelas-jelas adalah kekasihnya.
Sialnya lagi, air matanya mulai naik ke permukaan yang pasti akan membuatnya semakin terlihat menyedihkan. Jadi, sebelum itu terjadi, Aruby buru-buru menarik napas panjang, menahannya, menegakkan bahu sekuat yang ia bisa.
Ia harus berusaha tetap terlihat utuh, setidaknya untuk dirinya sendiri.
Aruby hendak melangkah, namun tepat di saat yang bersamaan, tiba-tiba sebuah sentuhan lembut mendarat di puncak kepalanya.
“Balik yuk,” suara itu berat, pelan, tapi tegas. “Udah malem.”
Aruby sontak menoleh. Di bawah cahaya lampu parkir yang merembes samar, sosok itu tampak jelas—kemeja hitam yang sepenuhnya sudah keluar dari celana jeansnya, rambutnya yang berantakan terkena angin, tas ransel yang menggantung di salah satu pundak, dan sepasang mata hitam yang terlalu tenang untuk hatinya yang berantakan.
Kairav Mahasagara.
“Oh—Kai?” suara Aruby hampir tercekat. “Lo... sejak kapan—”
“Gak lama,” potong pria itu singkat. “Tadi gue keluar bareng Baskara terus nggak sengaja lihat lo di sini.”
Seketika itu juga otak Aruby langsung dipenuhi pertanyaan. Apakah Kairav menyaksikan semuanya barusan?
Apakah dia melihat bagaimana Edo meninggalkannya di parkiran, dengan wajah Aruby yang mungkin... begitu menyedihkan?
“Ayo,” ajak Kairav lagi.
Namun, Aruby buru-buru menunduk, pura-pura sibuk dengan ponsel di tangannya. “Hah? Itu... lo gak papa duluan aja, Kai. Gue ... kebetulan masih ada urusan. Ini mau pesen ojol.”
“Baskara juga pasti udah pegel itu nungguin lo.”
“Nggak. Dia enggak nungguin gue. Bawa mobil sendiri dia.”
Aruby tidak merespon.
Kairav menatapnya lama. “By?”
“Nggak papa, Kai. Lo duluan aja,” ucap Aruby lagi, suaranya dibuat setenang mungkin padahal tangannya sedikit gemetar.
Jari Kairav perlahan bergerak, menyelipkan helai rambut Aruby yang menutupi wajah ke belakang telinga. “By ... Hei...”
Gerakan kecil yang sama sekali tidak terduga itu sukses membuat Aruby tertegun beberapa detik sebelum kemudian mengangkat wajah menatap Kairav.
Tepat ketika mata mereka bertemu, netra itu seolah mengunci keduanya di titik yang sama.
“Lo mau pergi? Ke mana?”
“Gue ...” Aruby kembali menggigit bibir bawahnya. Ia sontak mengalihkan pandang bola matanya ke arah lain, seolah berusaha mencari jawaban yang setidaknya dapat menyelamatkan harga dirinya.
“Gue ...,” katanya lagi. Otaknya berpikir sekeras mungkin hingga rasanya mencapai batas paling maksimal. Namun, tetap saja, tidak ada yang bisa ia sampaikan selain ...
“Nonton,” ucap Aruby akhirnya. Ia sudah pasrah dengan apapun pandangan pria itu terhadapnya. Mau bagaimana lagi? Memang begitu adanya. Dia ... menyedihkan.
“Sama Edo?”
Aruby hanya mengangguk pelan. “Harusnya, tapi—”
“Gue lihat kok, tadi,” sela Kairav, suaranya datar. “Pergi kan dia?”
Aruby lagi-lagi menggigit bibir bawahnya. Ia tahu Kairav sama sekali tidak bermaksud menghakimi, tapi rasa malu itu tetap saja menampar wajahnya keras.
Aruby bahkan sudah pasrah jika Kairav akan kembali mencelanya.
“Lo pengen banget nonton filmnya?”
Alih-alih mencela, pria itu malah bertanya hal yang tidak terduga.
Aruby menarik napas panjang. Antara lega dan tak lagi berselera membahas rencana nontonnya. “Udah nggak mood, sih. Cuman... sayang aja tiketnya. Udah kebeli.”
Kairav mendekat setengah langkah, lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengambil ponsel dari tangan Aruby. Jari-jarinya sempat bersentuhan lembut dengan jari Aruby. Singkat, tapi cukup untuk membuat napasnya tercekat.
Pria itu terlihat mengotak ngatik benda pipih di tangannya sebelum dikembalikan ke tangan sang pemilik.
“Nggak perlu pesen ojol,” katanya kemudian.
Aruby menerima ponselnya dan sontak melongo saat melihat pesanan ojolnya raib dari layar. Pria itu membatalkannya.
“Sama gue aja,” tambahnya.
“Hah? Gimana?”
“Tiketnya ada sama lo, kan? Ya udah ayo nonton sama gue.” yang dalam arti lain ‘ya udah ayo gue temenin’.
Aruby menatap Kairav lama. Mencoba membaca nada dalam suaranya — apakah ini bentuk kasihan karena seseorang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya dan dia berempati, atau ... sesuatu yang lain?
Tapi Kairav hanya berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi serius namun lembut. Angin malam berembus pelan, dan untuk sesaat Aruby berpikir bahwa mungkin tidak ada salahnya menghabiskan sabtu malamnya bersama pria lain.
***