06. Sosok yang Terasa Dekat

1430 Words
Hujan belum sepenuhnya pergi. Sisa rintiknya masih menetes dari dedaunan, menimbulkan suara lembut ketika mengenai aspal basah. Lampu-lampu jalan memantul di genangan air, membentuk bias kekuningan yang menari di permukaan. Mobil Kairav berhenti di depan bioskop di kawasan Setiabudi—tempat yang seharusnya malam ini jadi lokasi kencan Aruby dan Edo. Ironisnya, justru kini ia datang bersama orang yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Aruby menatap jendela, memperhatikan pantulan cahaya di kaca. Tangannya saling bertaut di pangkuan, jantungnya berdegup tak tentu arah. Dari sudut pandang siapa pun, ini cuma dua teman satu komunitas yang nonton film bareng. Tapi buat Aruby... konteksnya terlalu berbeda. Kairav mematikan mesin, lalu bersandar sejenak di kursinya. “Masih mau lanjut nonton, atau mau langsung gue anterin balik?” tanyanya tenang, tapi nada suaranya punya jeda kecil di tengah—seolah dia sendiri ragu, seolah dia tahu apa pun jawaban Aruby, itu akan mengubah banyak hal. Aruby melirik sekilas. “Lo yang tadi nawarin,” tapi ujung matanya jelas memancarkan kekesalan kecil. “Masa sekarang nanya?” Kairav mendengus pelan. “Ya siapa tahu lo berubah pikiran. Gue cuma gak mau lo tiba-tiba ngajak balik ditengah film.” “Ihhh, yakali!” matanya membulat. “Gue lebih takut kepergok cewek lo, sih. Entar yang ada dia jambak rambut gue. Ih ngeri banget,” balas Aruby cepat. Kairav tertawa. “Cewek mana? Nggak ada cewek gue.” “Halah ... kasian banget cewek yang minggu lalu lo ajak rapat di Artbeat kalau denger ini. Nggak diakui.” “Bukan cewek gue itu. Cuman deket aja,” bela Kairav tenang. “Bukan cewek lo tapi kissing di depan pintu apartemen?” Aruby berseru. “Gila sih, lo emang buaya b******k level top global!” Seminggu yang lalu, Aruby sempat memergoki pria itu ciuman di depan pintu apartemen seorang perempuan yang kebetulan hanya berjarak beberapa pintu dari unit apartemennya. Sekitar pukul 10 malam. Dan sebenarnya, hal itu yang menjadi pertimbangan Aruby kenapa dia memilih Kairav sebagai opsi tutor ciumannya. Pria itu kembali tertawa. “Ya kan kissing doang. Nggak ngapa-ngapain juga abis itu. Langsung balik.” “Ih, doang, katanya. Enteng banget itu mulut.” Tawa Kairav semakin pecag. “Gimana ya, ciuman enak soalnya.” Jawaban yang seketika membuat Aruby melotot. Pria itu benar-benar, ya! Kairav akhirnya mengulurkan tangan, membuka pintu. “Yuk, turun. Lumayan buat ngilangin penat.” Aruby mengikuti, langkahnya sedikit pelan. Begitu berdiri di bawah atap bioskop, baru ia sadari bahwa sejak tadi ponselnya masih berada di laman aplikasi ticket digital yang menampilkan dua tiket pesanannya. Tiket yang seharusnya jadi bukti kencan romantis, kini berubah menjadi sesuatu yang tak ada artinya. Kairav menatap Aruby, lalu mengangkat alis. “Kenapa?” “Hah? Enggak. Enggak apa-apa. Ini barusan gue cek tiketnya supaya nanti tinggal di scan aja.” Ia hanya memandang Aruby sekilas, lalu tangannya terulur belakang, tepat di punggung gadis itu. “Ayo,” katanya santai, berjalan ke arah pintu studio. *** Suasana lobi bioskop masih ramai. Lampu-lampu di langit-langit berwarna hangat, kontras dengan udara dingin dari AC yang terasa sampai ke kulit. Aroma butter popcorn dan caramel bercampur di udara, membentuk atmosfer yang khas—campuran antara euforia dan kebiasaan orang yang datang sekedar untuk menghilangkan penat ditengah realita yang melelahkan. Aruby melangkah ke arah mesin pemindai tiket, ponselnya sudah siap dengan kode QR yang menyala di layar. Namun, baru saja ia mengangkat tangannya, suara Kairav lebih dulu terdengar. “Mbak, dua tiket untuk The Lost Frequency, ya.” Kalimat itu membuat kepala Aruby otomatis menoleh. “Eh?” suaranya pelan, nyaris tertelan musik bioskop yang mengalun dari speaker. Bagian front line itu mengangguk cepat, jari-jarinya lincah mengetik di layar monitor. “Untuk jam sembilan malam, ya, Kak?” Kairav mencondongkan sedikit tubuhnya ke meja, nada suaranya tenang tapi mantap. “Iya, dua kursi seat F kalau masih ada.” Aruby buru-buru menghampiri, ponselnya masih terangkat di tangan. “Kai, ngapain? Ini kan udah ada tiketnya.” Pria itu menoleh santai, satu sudut bibirnya terangkat. “Itu kan tiket yang lo pesen buat nonton sama Edo. Lo kan jalannya sekarang sama gue.” Ucapan itu berhasil bikin Aruby kehilangan kata. Ada jeda beberapa detik yang seolah membeku di antara suara antrian, decak tuts keyboard, dan detak jantungnya sendiri. Kairav melirik sekilas ke arah layar besar di belakang loket yang menampilkan poster film, sebelum kembali menatap Aruby. “Anggep aja ini reward karena lo berhasil menyelamatkan visual rancangan panggung dalam satu kali revisi,” ujarnya ringan, hampir terdengar seperti lelucon, tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuat nada santainya terasa terlalu dalam. Aruby masih memandangi wajahnya beberapa detik sebelum akhirnya mendesah kecil. “Lo tuh ya…” gumamnya, setengah gemas setengah tidak tahu harus marah atau senyum. “Ada lagi, Kak?” Suara dari petugas tiket berhasil mengalihkan fokus keduanya. Kairav menggeser pandang ke arah etalase kaca di samping loket, di mana deretan popcorn berbaris rapi di balik lampu kuning lembut. “Popcorn large satu, yang butter. Minumnya...” Kairav mengalihkan tatapannya pada menu. “Soda sama teh peach, Mbak.” “Minumannya ukuran regular atau large?” “Large aja dua-duanya,” jawab Kairav tanpa pikir panjang. Aruby melongo. “Kai—” “Kenapa, sih?” Ia menatapnya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis. “Gue udah bilang ini reward buat lo.” Ia kemudian mengutak-ngatik ponselnya. “Pembayarannya via Qris ya, Mbak.” Beberapa menit kemudian, petugas menyerahkan dua tiket dan satu nampan berisi popcorn serta minuman. “Ini, Kak. Studio 3 ya, lantai dua.” Kairav menerima semuanya, lalu memberikan satu minuman teh peach ke tangan Aruby. “Yuk. Keburu mulai filmnya.” Aruby masih berdiri di tempatnya, memperhatikan bagaimana punggung lebar itu berjalan di hadapannya. Kairav, pria itu ... entah mengapa menjelma menjadi sesuatu yang terasa dekat. Atau, dirinya saja yang berpikir berlebihan? Tanpa sadar, ia melangkah di belakang pria itu. Langkah mereka seirama, diiringi aroma manis popcorn yang menggantung di udara. Membiarkan malam minggunya ia habiskan dengan seseorang yang ... bukan kekasihnya. Mungkin, tidak apa untuk sekali ini. Studio tiga masih setengah gelap ketika mereka masuk. Barisan kursi sudah terisi setengahnya, aroma popcorn dan karamel bercampur dengan suara iklan film yang memantul di dinding. Aruby mengikuti di belakang Kairav, langkahnya pelan, sementara pria itu menuntunnya tanpa banyak bicara. Gerakan bahunya tenang, tapi ada sesuatu di cara ia sesekali menoleh, seperti berusaha memastikan Aruby masih di belakangnya. Hal kecil yang entah kenapa membuat d**a gadis itu terasa aneh. Seat F, baris tengah. Kairav menaruh nampan popcorn di sandaran tangan di antara mereka, lalu menyender santai di kursinya. “Pas banget,” gumamnya. “Belum mulai.” Aruby cuma mengangguk, menunduk, sibuk menata roknya biar tidak kusut. Lampu mulai meredup, satu per satu, hingga layar besar menyala menampilkan logo produksi. Sorotan cahaya putih keperakan memantul di wajah Kairav—garis rahangnya, mata yang fokus ke layar, dan bibirnya yang tanpa sadar sedikit terbuka. Aruby menelan ludah. Kenapa dia jadi memperhatikan Kairav kayak gitu, sih? Ia buru-buru meraih popcorn, sekadar pengalihan. Tapi baru saja tangannya menyentuh tepian wadah, jari mereka bersentuhan. Seketika, waktu seperti melambat. Kairav menoleh pelan. Tatapan mereka bertemu di tengah gelap dan cahaya putih dari layar. Detik demi detik berlalu tapi untuk Aruby rasanya seperti berabad-abad. Ia buru-buru menarik tangan. “Sorry,” bisiknya. Kairav hanya menatapnya sebentar, lalu tanpa komentar mengambil salah satu popcorn dan membawanya ke dekat bibir Aruby. “A....” katanya pelan. Aruby menatap galak pada pria di sampingnya. “Apa, nih? Gue masih bisa ambil sendiri, loh.” “Tahu.” Senyum tipis muncul di wajah pria itu. “Ini itung-itung reward, By.” Lagi-lagi kalimat yang sama terdengar. Entah harus Aruby percayai atau tidak. Namun, siapa yang menyangka jika Aruby merespon dengan membuka mulutnya, membuat Kairav bisa dengan mudah memasukkan popcorn itu ke dalam mulut Aruby. “Thanks,” katanya singkat. Matanya segera beralih pada layar. Tenang, By. Tenang. Ini bukan apa-apa, kok. Bukan sesuatu yang harus lo pikirin lebih jauh. “Lo, selalu memperlakukan semua cewek kayak gini ya, Kai?” tanya Aruby pelan. Menoleh ke arah Kairav. Pria itu ikut menoleh. “Kenapa emangnya?” “Nggak apa-apa, sih. Nanya doang.” “Kenapa? Jangan bilang lo jatuh cinta sama gue, ya?” Aruby seketika melotot. “Enggak, ya. Enak aja! Kalau cewek lain, mungkin bisa jadi. Tapi gue sih enggak. Edo aja yang b******k mau gue putusin, masa abis itu gue kejebak sama lo yang sebelas dua belas kelakuannya sama dia. Enggak, ya. Jangan harap.” Kairav hanya terkekeh lalu fokus pada film yang sudah dimulai sekian menit yang lalu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD