62. Sosok Bernama Nadira

1432 Words

Ritme kampus kembali menderu dengan segala hiruk-pikuknya, seolah menghisap mereka ke dalam pusaran jadwal yang nyaris tidak menyisakan ruang untuk sekadar mengambil napas. Tumpukan proposal skripsi, jadwal bimbingan yang padat, riuh rapat Artbeat, hingga deretan tugas presentasi datang silih berganti tanpa memberi aba-aba. Namun di balik segala kepenatan itu, Aruby dan Kairav selalu menemukan cara untuk tetap berpijak dan saling menguatkan. ​Perpustakaan menjadi saksi paling setia bagi perjalanan mereka. Di sebuah sudut sunyi dekat jendela, Kairav seringkali tenggelam dalam keseriusan di depan layar laptopnya, sementara coretan revisi proposal memenuhi halaman demi halaman seolah tanpa akhir. Aruby biasanya duduk tenang di sampingnya dengan posisi kaki terlipat rapi, menyibukkan diri d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD