Kesibukan Artbeat di Ruang 517 mencapai puncaknya sore itu. Aroma kopi instan bercampur dengan bau kertas printer yang masih hangat memenuhi ruangan. Sebagai ketua tim produksi, Kairav duduk di meja tengah yang dikelilingi kabel-kabel dan maket panggung. Di sampingnya, Aruby sedang sibuk mengurasi palet warna untuk publikasi acara mendatang. Hubungan mereka di sini bukan lagi sekadar sepasang kekasih, melainkan dua otak yang harus menyatukan visi antara sistem dan rasa. “Kalau lighting-nya terlalu warm, impresi publikasinya bakal kontras sama suasana panggung nanti, Mas,” ujar Aruby sembari menggeser tabletnya ke arah Kairav. Kairav mengernyit, mencoba mencerna teknis yang baru saja dijelaskan. “Tapi sistemnya baru bisa stabil kalau kita pakai lampu LED dingin, By. Kalau dipaksa warm, ak

