Sore hari merayap turun pelan-pelan, meninggalkan jejak langit kelabu yang masih meneteskan rintik hujan. Jam hampir menunjukkan pukul lima ketika Kairav keluar dari gedung tempat magangnya. Udara lembap, aroma tanah basah adalah Jakarta after rain yang khas. Di balik kemudi, ia hanya ingin pulang, mandi air hangat, tidur. Tapi dunia kadang hobi sekali bercanda. Di persimpangan dekat kafe kecil yang lampunya kuning temaram, dia melihatnya. Aruby. Berdiri sendirian di bawah kanopi tipis, merapatkan tas ke d**a, menatap jalan raya sambil sesekali mengusap layar ponselnya. Tanpa pikir panjang, Kairav langsung menepi. Ban mobilnya menggilas genangan kecil, memantulkan serpihan air ke udara. Ia menurunkan kaca mobil. “By?” suaranya terdengar serak oleh lelah dan dingin sore. “Ngapain? Lo

