Hujan meredup menjadi sisa-sisa rinai di kaca depan ketika mobil Kairav akhirnya memasuki basement apartemen. Jakarta tampak seperti baru bangun dari tidur siang yang terlalu panjang; lembap, berkilau, dan sedikit muram. Mobil berhenti perlahan. Mesin dimatikan. Keheningan kecil tercipta di antara mereka sebelum Aruby membuka seat beltnya. “Thanks ya, Kai, udah nganterin gue balik.” Suaranya pelan, tapi tulus. Kairav hanya mengangguk. “Santai aja kali." “Ya, tetep aja.” Aruby menatap kemeja Kairav yang belum benar-benar kering. Di bawah lampu basement yang pucat, kain itu tampak lebih dingin dari yang seharusnya. Sebuah pemikiran muncul di kepalanya. “Lo mau mampir dulu nggak? Baju lo masih basah.” Ada jeda kecil. “Kayaknya masih ada baju Bang Trian yang ketinggalan deh di apartemen

