Garasi rumah Baskara yang sudah disulap jadi basecamp itu biasanya riuh dengan suara Garvi yang gak bisa diam atau tawa Aruby yang renyah. Tapi malam ini, tempat itu terasa seperti ruang interogasi yang dingin. Kairav duduk di sofa, menyandarkan punggungnya yang terasa kaku, sementara Baskara dan Garvi duduk di hadapannya. Kairav baru saja menyelesaikan kalimatnya tentang pertemuannya dengan Aruby sore tadi. Bahwa ia sudah resmi melepaskan satu-satunya alasan yang membuatnya ingin bangun setiap pagi. “Gue udah putus sama Aruby,” ucap Kairav pelan. Suaranya datar, nyaris tanpa emosi, tapi sorot matanya yang kosong tidak bisa berbohong. “Gue bener-bener udah lepasin dia, buat selama-lamanya.” Garvi, yang biasanya paling berisik, kali ini hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Dia sudah tahu

