Malam di luar restoran ramen sudah jatuh sepenuhnya. Lampu-lampu jalan memantulkan warna keperakan di trotoar yang masih sedikit basah sisa hujan sore tadi. Clara dan Alvano berjalan berdampingan menuju parkiran mall, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri, walaupun udara di antara mereka terasa hangat dan janggal sekaligus. Clara memeluk lengannya sendiri karena angin malam cukup menusuk. “Kok dingin banget ya malam ini,” gumamnya sambil menghela napas. Tanpa pikir, Alvano melepas hoodie yang ia pakai. “Nih. Pakai.” Clara menatapnya. “Van… kamu nanti kedinginan.” “Lebih baik aku kedinginan daripada kamu.” Clara terdiam, tapi ia menerima hoodie itu. Saat memakainya, aroma lembut parfum Alvano menyeruak—aroma yang ia kenal, aroma yang dulu menenangkan namun juga membangkitkan

