Alvano mengantarkan Clara pulang ketika malam sudah cukup larut. Udara mulai dingin, embun tipis menempel di jok motor dan jaket mereka. Clara memeluk pinggang Alvano selama perjalanan, dan Alvano bisa merasakan betapa hangat gadis itu meskipun udara menusuk. Setelah beberapa menit berkendara, akhirnya mereka tiba di depan rumah Clara. Lampu teras rumah itu menyala lembut, menerangi pagar dan halaman kecil di depan pintu. Alvano berhenti pelan, mematikan mesin motor, lalu menoleh ke belakang. “Kita sudah sampai,” ucapnya lembut. Clara membuka helmnya, menatap Alvano sambil tersenyum, pipinya masih merah karena angin malam yang dingin. “Makasih ya, Van. Hari ini seru banget.” “Seru karena kamu,” jawab Alvano tanpa ragu. Clara langsung menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang mak

