Hari-hari setelah pertemuannya dengan Clara di depan kafe itu membuat hidup Alvano berubah sepenuhnya. Setiap pagi saat membuka mata, bayangan wajah Clara selalu muncul pertama kali di pikirannya. Senyumnya, tatapan matanya, bahkan cara gadis itu menghela napas saat marah pun terpatri kuat di ingatan Alvano. Ia sadar, tidak ada gadis lain yang bisa membuatnya seperti itu. Semua yang dulu ia kejar—popularitas, taruhan, tawa kosong bersama teman-temannya—tidak berarti apa pun tanpa Clara. Alvano mulai menjauh dari kebiasaannya yang lama. Ia berhenti nongkrong di parkiran belakang, berhenti ikut balapan liar, bahkan menjauh dari teman-teman geng motornya. Banyak dari mereka yang mencemooh, mengatakan bahwa Alvano telah berubah jadi “anak baik-baik.” Tapi Alvano hanya diam. Ia tidak peduli la

