Bab 194

1007 Words

Pagi itu udara masih lembap setelah semalaman hujan turun pelan. Jalanan depan rumah Clara masih sedikit basah, menyisakan kilau air di antara bebatuan kecil. Suara burung bersahutan dari pepohonan di sekitar komplek, menandakan hari baru dimulai. Dan di depan pagar rumah berwarna putih gading itu, berdiri seorang remaja dengan seragam SMA yang terlihat sudah pas di tubuh tegapnya. Alvano bersandar santai di motor sport hitamnya, tangan kanan dimasukkan ke saku celana, sementara helm tergantung di spion. Napasnya dihembuskan pelan, seperti mencoba menenangkan detak jantungnya sendiri. Dia sudah menunggu hampir dua puluh menit, tapi sama sekali tidak merasa bosan. Matanya menatap pintu rumah itu dengan sabar, berharap gadis yang dinantikannya akan segera keluar. Dan akhirnya, pintu rumah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD