Keesokan paginya, suasana rumah mereka dipenuhi dengan aroma kopi dan suara tawa kecil Alvano yang sudah bangun lebih dulu dari kedua orang tuanya. Sarah tengah menyiapkan sarapan sederhana di dapur, sedangkan Kavindra berdiri di ambang pintu, memperhatikan pemandangan yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus bersalah. Ia menatap punggung istrinya yang sibuk di depan kompor, rambut Sarah dikuncir rendah, mengenakan daster berwarna lembut, dan sesekali menoleh ke arah putra kecil mereka yang sedang memainkan sendok di kursi makan sambil tertawa. Pemandangan itu seharusnya menjadi hal yang ia lihat setiap pagi, tapi beberapa minggu terakhir ini, ia terlalu sibuk. Pulang larut malam, berangkat sebelum matahari terbit. Ia melewatkan banyak momen kecil bersama keluarga yang ia cintai. Kav

