Sarah duduk di lantai ruang keluarga, di antara tumpukan mainan yang berserakan di karpet lembut berwarna krem. Siang itu rumah terasa begitu tenang, hanya suara angin dari kipas langit-langit yang berputar perlahan, berpadu dengan tawa kecil Alvano yang berumur satu tahun. Namun tawa itu tiba-tiba berubah menjadi tangisan keras ketika mainan robot kesayangannya terjatuh dan salah satu lengannya terlepas. “Alvano sayang, ada apa?” tanya Sarah lembut sambil berjongkok di depan putranya. Alvano dengan wajah berair air mata menunjuk ke arah robot yang kini kehilangan satu tangan. Suaranya serak kecil, tangannya menepuk-nepuk lantai tanda kesal. Sarah sempat menahan tawa melihat ekspresi serius anaknya itu. Ia tahu, bagi anak sekecil Alvano, robot mainannya seperti teman sejati yang selalu m

