Bab 161

1197 Words

Siang itu langit Jakarta tampak cerah. Matahari bersinar hangat, langit berwarna biru pucat dengan awan putih yang sesekali lewat, dan di jalanan, mobil-mobil berlalu-lalang seperti biasa. Sarah melirik jam tangannya sambil memeluk kotak makan siang besar yang dibungkus rapi. Di dalamnya, ada nasi hangat, ayam panggang madu kesukaan Kavindra, tumis sayur, dan puding cokelat buatan tangannya sendiri. Tadi pagi, sebelum berangkat, ia sempat menitipkan Alvano pada Mama Raisa—mertua yang sangat menyayangi cucunya itu. Raisa begitu senang ketika Sarah datang membawa Alvano. “Wah, cucu Mama datang lagi ya,” ucap Raisa dengan mata berbinar saat Sarah datang ke rumah besar itu. “Sini, sayang, Alvano sama nenek aja hari ini. Kamu mau ke kantor Kavindra, kan?” Sarah mengangguk sopan. “Iya, Ma. Ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD