Bab 162

1036 Words

Siang itu, suasana langit Jakarta sedikit mendung. Di sebuah kafe bernuansa hangat dengan aroma kopi yang kuat, Sarah sudah duduk di salah satu meja dekat jendela. Matanya menatap keluar, ke arah jalanan yang ramai. Tangannya menggenggam cangkir cappuccino, namun sejak sepuluh menit lalu ia belum meneguknya. Ada hal yang berputar di kepalanya — hal yang sudah ia tahan selama beberapa minggu terakhir. Ia sudah lama menyadari. Dari cara Sinta berbicara pada suaminya, dari tatapan yang terlalu lama setiap kali nama “Pak Kavindra” disebut, dari cara perempuan itu berusaha mencari perhatian kecil-kecilan di kantor. Sarah bukan tipe wanita cemburuan buta, tapi ia juga bukan orang yang akan membiarkan rumah tangganya disentuh orang lain. Dan hari ini, ia ingin bicara langsung, tanpa emosi, tanpa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD