Bab 202

1404 Words

Alvano berdiri di depan gerbang rumah Clara dengan napas sedikit memburu, bukan karena lelah, tetapi karena gugup. Kotak bekal berisi nasi goreng yang ia buat subuh bersama papanya terasa seperti bom waktu di tangannya—setiap detik ia merasa semakin gelisah, takut rasanya tidak enak, takut Clara tidak suka, takut semuanya berantakan. Gerbang kayu rumah Clara terbuka pelan. Clara keluar memakai seragam SMA-nya yang rapi, rambutnya dikuncir setengah, wajahnya segar dengan senyum kecil yang langsung membuat jantung Alvano nyaris berhenti berdetak. Ia selalu terlihat cantik, tetapi pagi ini entah kenapa Clara terlihat lebih cerah dari biasanya. “Alvano?” Clara mendekat sambil tersenyum. “Kamu datang pagi banget.” Alvano berdeham gugup. “Iya… aku… em… memang sengaja.” Clara tertawa kecil. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD