Saat jam pulang sekolah, halaman depan SMA Clara dipenuhi siswa yang berhamburan keluar, sebagian berlari menuju gerbang, sebagian lagi bercengkerama sambil menunggu jemputan. Clara berjalan sambil merapikan tali tasnya, sesekali meneguk air mineral, dan diam-diam menyunggingkan senyum kecil karena tahu Alvano akan datang menjemput. Sejak pagi, perasaannya sudah lebih ringan. Perutnya masih hangat setiap kali mengingat nasi goreng buatan Alvano. Hatinya bahkan sempat berdebar karena pesan terakhir dari lelaki itu mengatakan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu. Clara berdiri di dekat tangga depan sekolah, mengedarkan pandangan ke segala arah. Angin sore mengibaskan rambutnya, membuatnya terlihat lebih lembut dan cerah. Lalu, dari kejauhan, suara knalpot motor sport Alvano terdengar—suara kha

