Bab 229

3232 Words

Setelah mengisi formulir, mereka dipanggil ke ruang wawancara satu per satu. Clara masuk lebih dulu, sementara Alvano menunggu di luar—dan itu kesalahan besar, karena ruangan luar dipenuhi mahasiswa senior laki-laki yang sedang bertugas sebagai panitia penerimaan mahasiswa baru. Begitu Clara duduk di kursi tunggu setelah wawancara, para senior itu langsung menoleh. Seorang senior berkulit sawo matang, tinggi, dan tampan, mendekat sambil tersenyum ramah. “Hai, kamu dari SMA mana? Wawancaranya lancar?” Clara tersenyum sopan. “Lancar, Kak.” Lalu ada lagi senior lain dengan rambut agak panjang dan kacamata stylish ikut mendekat. “Nama kamu siapa? Kayaknya baru pertama lihat wajah kayak kamu di sini.” Clara tersenyum kikuk. “Clara, Kak.” TIDAK SAMPai DI SITU. Senior ketiga—yang wajahnya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD