Alvano duduk di kursi rotan balkon kamarnya sambil memetik gitar pelan, membiarkan nada-nada lembut mengalir mengikuti ritme pikirannya yang sedang kacau. Angin malam menyentuh wajahnya, membawa aroma pohon kamboja dari taman belakang rumah. Di depan sana, langit Jakarta dipenuhi lampu kota. Namun bahkan gemerlap itu tidak mampu mengalihkan fokusnya dari satu hal yang terus berputar di kepalanya: masa depannya. Ia memejamkan mata sesaat. Sejak makan malam bersama Papa dan Mama, pertanyaan tentang universitas dan jurusan terasa semakin berat. Bukan hanya karena tuntutan masa depan, tetapi karena semua keputusan itu kini selalu berkaitan dengan Clara. Selalu. Ia membuka mata lagi dan tersenyum kecil ketika mengingat wajah Clara sore tadi. Gadis itu bercerita tentang universitas impiannya, t

