Kantin sekolah pagi itu ramai. Suara kursi digeser, sendok garpu beradu, dan percakapan murid-murid bercampur jadi satu, menciptakan hiruk-pikuk khas yang selalu membuat suasana terasa hidup. Alvano berjalan masuk dengan langkah santai, namun wajahnya masih menyimpan senyum kecil yang tidak bisa ia hilangkan setelah menjemput Clara tadi. Teman-temannya tentu saja langsung menangkap perubahan itu. “Eh, Van! Sini duduk!” panggil Ray sambil melambai. Meja sudut kanan sudah dikuasai empat sahabat dekatnya: Ray, Bima, Drego, dan Kenzo. Begitu Alvano menarik kursi dan duduk, semua mata langsung tertuju padanya seperti sekelompok penyidik. “Kenapa senyum-senyum? Pasti ada sesuatu,” ujar Drego sambil menaikkan alis nakal. “Dari tadi wajahnya kayak habis dapat jackpot,” tambah Bima. Alvano han

