Bab 226

2620 Words

Kantin sekolah pagi itu ramai. Suara kursi digeser, sendok garpu beradu, dan percakapan murid-murid bercampur jadi satu, menciptakan hiruk-pikuk khas yang selalu membuat suasana terasa hidup. Alvano berjalan masuk dengan langkah santai, namun wajahnya masih menyimpan senyum kecil yang tidak bisa ia hilangkan setelah menjemput Clara tadi. Teman-temannya tentu saja langsung menangkap perubahan itu. “Eh, Van! Sini duduk!” panggil Ray sambil melambai. Meja sudut kanan sudah dikuasai empat sahabat dekatnya: Ray, Bima, Drego, dan Kenzo. Begitu Alvano menarik kursi dan duduk, semua mata langsung tertuju padanya seperti sekelompok penyidik. “Kenapa senyum-senyum? Pasti ada sesuatu,” ujar Drego sambil menaikkan alis nakal. “Dari tadi wajahnya kayak habis dapat jackpot,” tambah Bima. Alvano han

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD