Sarah akhirnya berdiri dari kursi setelah berjam-jam duduk di samping ranjang Kavindra. Matanya sembab karena menangis, tapi ia tahu tubuhnya harus kuat. Ia menatap wajah suaminya sekali lagi sebelum berbisik lirih. “Kavin… aku keluar sebentar ya, cuma mau beli minum. Aku akan segera kembali. Kamu harus bertahan.” Ia membelai tangan suaminya sekali lagi, lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah pelan. Koridor rumah sakit terasa sepi pada jam itu. Lampu-lampu putih menyala terang, suara langkah Sarah bergema samar. Ia berjalan menuju kantin rumah sakit yang berada di lantai bawah. Dalam benaknya, ia hanya ingin membeli sebotol air mineral dingin untuk membasahi tenggorokannya yang kering sejak tadi. Namun, ia tidak sadar kalau ada sepasang mata yang terus mengawasi setiap gerakannya

