Bab 152

2452 Words

Pagi itu udara Jakarta terasa segar setelah hujan semalaman. Sinar matahari baru saja menembus tirai kamar, dan burung-burung di halaman belakang terdengar bersahutan. Sarah yang baru saja bangun lebih dulu dari Kavindra sedang menyiapkan sarapan di dapur, mengenakan daster lembut berwarna biru muda. Ia sesekali menoleh ke arah ruang tengah tempat Alvano, bayi mereka yang kini berusia satu tahun, tengah asik bermain dengan mainan berbentuk mobil kecil sambil tertawa renyah. Suara tawa itu menjadi musik pagi bagi Sarah. Hatinya terasa hangat setiap kali melihat bayi kecilnya tersenyum seperti itu. Tak lama kemudian, langkah berat Kavindra terdengar menuruni tangga. Rambutnya masih sedikit berantakan, tapi senyumnya mengembang melihat pemandangan di hadapannya. “Selamat pagi,” ucapnya sera

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD