Bab 166

2190 Words

Begitu pesawat mendarat di Jakarta malam itu, suasana tegang dan sunyi terasa menekan. Sarah menggenggam tangan Kavindra erat sejak mereka turun dari kabin, tak ada satu pun kata keluar dari mulut mereka selain doa yang terus diulang di dalam hati. Wajah Kavindra tampak pucat, matanya sembab, dan langkahnya berat saat melewati lorong bandara. "Sayang, ayo cepat, kita langsung ke rumah sakit," ucap Sarah lembut sambil menahan suaranya agar tidak bergetar. Kavindra mengangguk tanpa menoleh. Napasnya berat, seolah setiap langkah yang ia ambil menuju pintu keluar bandara menambah beban di dadanya. Sejak mendapat kabar dari pihak rumah sakit dua jam lalu, ia tak berhenti merasa bersalah. Saat kejadian, ia sedang tertawa bersama Sarah dan Alvano di Singapura. Dan sekarang, Mama dan Papanya sed

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD