Bab 167

2371 Words

Raisa terbaring di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang masih lemah. Tangan kirinya dipasang infus, sedangkan di hidungnya terpasang selang oksigen yang membantu pernapasannya. Mata perempuan paruh baya itu terbuka pelan, memandangi langit-langit kamar yang putih dan dingin. Lampu kamar menyala redup, menimbulkan bayangan samar di dinding. Sudah tiga hari ia dirawat di sini sejak kecelakaan itu terjadi, dan setiap kali membuka mata, hanya satu yang selalu muncul di pikirannya: Ardi. Dia ingin sekali melihat suaminya. Ingin tahu apakah lelaki yang selama puluhan tahun menemaninya itu baik-baik saja. Tapi yang dia dengar dari dokter dan dari mulut putranya sendiri, kondisi Ardi lebih parah darinya. Pendarahan di otak membuatnya harus menjalani operasi besar dan kini masih belum sadar. Rais

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD