Sore itu, matahari perlahan meredup di balik gedung-gedung tinggi kota. Lantai paling atas perusahaan Leonardo Group masih menyala terang, meski sebagian besar karyawan sudah mulai membereskan meja mereka untuk bersiap pulang. Di ruangan sekretaris, Sinta menatap jam dinding yang jarumnya menunjuk pukul lima lewat sepuluh menit. Ia menghela napas panjang. Dari arah pintu kaca besar, terlihat Kavindra keluar dari ruangannya sambil membawa tas kerja hitam. Langkahnya cepat, mantap, dan ekspresinya jelas: ingin segera pulang. Seperti biasa, ia pasti langsung ke rumah untuk bertemu Sarah dan Alvano. Sinta menatap punggung tegap itu tanpa sadar menggenggam pulpen di tangannya terlalu erat. Hatinya berdesir tak karuan. Sudah dua minggu bekerja dekat dengan pria itu, dan setiap hari ia hanya b

