21. Pagi, Kapten, dan Histeria

1149 Words

Sinar matahari Shanghai menyelinap melalui celah gorden, jatuh tepat di kelopak mata Milea yang masih terpejam erat. Suasana kamar begitu tenang, sampai matanya melirik ke arah jam beker di atas nakas. "Astaga! Jam tujuh?!" Milea meloncat dari ranjang seolah ada ledakan di bawah bantalnya. Ia meringis pelan saat merasakan nyeri di pinggang dan pangkal pahanya sisa-sisa hukuman semalam yang masih tertinggal. Dengan langkah tertatih dan napas yang memburu, ia berlari ke arah kamar mandi, namun langkahnya terhenti di depan pintu. Julian berdiri di sana. Sudah rapi dengan kaos polo hitam dan celana kain, aromanya segar seperti sabun. Ia sedang memegang pengering rambut di tangan kanannya dan handuk bersih di tangan kirinya. "Baru mau dibangunkan," ucap Julian datar, tanpa rasa bersalah sed

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD