Bab 20. Penaklukan Mutlak

1420 Words

Suara isakan Milea yang halus mulai pecah, beradu dengan detak jarum jam di dinding yang terasa sangat lambat. Air matanya mengalir melewati pelipis, membasahi permukaan meja kayu yang masih terasa dingin di bawah punggungnya. Namun, Julian tetap bergeming. Ia masih menatap Milea dengan pandangan lapar yang tertata, menikmati pemandangan istrinya yang sudah hancur berantakan karena gairahnya sendiri. "Siapa yang akan kau biarkan merangkulmu di wisuda nanti, hm?" Julian berbisik, suaranya kini selembut beludru namun menuntut jawaban mutlak. "Enggak ada... hiks... cuma kau," rintih Milea, napasnya tersengal. Julian merunduk, membiarkan bibirnya menyapu air mata di pipi Milea, menyesap rasa asin itu seolah itu adalah minuman paling nikmat setelah perang. "Lalu kenapa mulut ini bicara soa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD