Jedidah tidak bisa menunggu. "Tolong beri tahu di mana Dara," desaknya, matanya menajam penuh urgensi. “Dia itu pemikirannya extreme, bagaimana kalau dia pergi lagi?” Carol mendesah panjang. "Astaga, iya, sebentar. Aku coba menghubunginya dulu." Ia segera mengambil ponselnya dan menekan nomor Dara. Namun, beberapa detik kemudian, wajahnya berubah. "Tidak aktif," gumamnya, mulai merasa tidak enak. Jedidah mengepalkan tangan, rasa frustrasi menjalar ke seluruh tubuhnya. "Di mana dia terakhir?" "Sepertinya dia butuh waktu lebih banyak. Dia bilang ingin jalan-jalan dan keluar dengan taksi." Jedidah memaki dalam hati. Dara sedang kacau, hamil, dan dalam kondisi penuh ketidakpastian. Bagaimana kalau dia benar-benar pergi? Bagaimana kalau dia membawa anak-anak dan hilang lagi? Di saat kepan

