Keenan menghempaskan dirinya ke sofa, ia cukup lelah juga setelah menguburkan bangkai ayam dan membersihkan teras rumah Nadira. Ia juga sudah mencuci tangannya dengan sabun dan mengulangi dengan memakai hand sanitizer. “Ini, minum dulu!” Nadira yang pengertian telah menyeduhkan kopi untuk Keenan dan memberikannya. “Terima kasih.” Keenan mengangguk dan kemudian menyeruput kopi itu. “Siapa ya yang tega berbuat aneh begitu?” tanya Nadira merasa heran dengan adanya kejadian aneh berusan. Keenan mengangkat bahu dan menggeleng. “Aku juga tidak tahu. Tapi seperti yang aku katakan tadi, mungkin saja hanya perbuatan iseng. Kita tidak tahu apakah orang di sekitar sini ada yang memiliki gangguan jiwa atau sekedar orang lewat saja.” Keenan berusaha berpikir positif. “Iya sih, tapi iseng untuk ap

