Sudah dua hari dua malam Nadya mengurung diri di dalam kamarnya, ia sama sekali tidak mau keluar meskipun sekedar untuk makan ataupun minum. Kedua orang tuanya menjadi khawatir dengan keadaan anak mereka, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk membujuk Nadya agar mau keluar dari dalam kamarnya. Yang Nadya lakukan di dalam kamarnya hanya menangis dan menangis sampai terkuras semua air matanya. Rambutanya yang panjang tergerai acak-acakan, wajahnya sembab parah sebab kurang tidur dan terus saja menangis ketika teringat semua luka yang ditorehkan oleh Keenan kepadanya. “Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang menarik? Apa lebihnya Nadira dibandingkan dengan aku?” tanya Nadya sambil menatap dirinya sendiri di dalam cermin besar yang ada di meja rias yang biasanya dia gunakan untuk berka

