Tahu-tahu hari sudah beranjak siang ketika Arunika terbangun. Cahaya matahari sudah masuk penuh melalui celah tirai, menimpa wajahnya dengan hangat. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, masih sedikit linglung, lalu refleks menoleh ke arah jam dinding. Pukul satu siang. Ia langsung bangkit perlahan, tubuhnya masih terasa berat, tetapi perutnya sudah memberi sinyal lapar yang tidak bisa diabaikan. Setelah merapikan rambut seadanya, ia melangkah keluar kamar, mengikuti aroma makanan yang sudah lebih dulu menyambutnya dari arah ruang makan. Meja makan sudah tertata rapi. Berbagai hidangan hangat tersaji, mulai dari sup ringan, tumisan sayur, ayam panggang, hingga nasi putih yang masih mengepul. Arunika tidak berpikir panjang, langsung duduk dan mulai makan dengan lahap. Sudah terlalu lama ia m

