Selimut hangat itu menutupi hampir seluruh tubuh Arunika, hanya menyisakan bagian kepalanya yang sedikit keluar dari lipatan kain tebal berwarna netral itu. Cahaya pagi masuk samar dari celah tirai, lembut dan tidak menyilaukan, memberi kesan tenang yang bertolak belakang dengan isi kepalanya yang justru penuh dan berisik. Ia membuka mata perlahan, belum sepenuhnya sadar, hingga beberapa detik kemudian ia merasakan sesuatu, sebuah pelukan yang erat dari belakang, hangat, stabil, dan… terlalu nyata untuk diabaikan. Tubuhnya langsung menegang. Mahadewan. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu itu siapa. Lengan pria itu melingkar di pinggangnya dari bawah selimut, d**a bidangnya menempel di punggung Arunika tanpa jarak. Kulitnya yang hangat terasa jelas, membuat Arunika seketika sadar, mereka t

