Rakha's PoV
Aku hendak minum ke belakang, namun langkah kakiku terhenti ketika mendengar suaranya Ayu yang sedang duduk menundukkan kepala, dengan ponsel menempel pada telinganya. Kata-kata yang keluar dari mulut perempuan itu membuatku menganga tak percaya.
Perempuan itu mendongak dan tatap mata kami bertemu. Sudut bibirku terangkat membentuk senyuman sinis. Dia punya tujuan lain menikah denganku? Tuh kan, aku bilang juga apa.
"Bersikap sok baik dan lembut, karena butuh uang dari saya?"
Perempuan itu menggelengkan kepala.
Aku berdecak. Dia mengelak padahal sudah jelas-jelas aku mendengar kalimat yang keluar dari mulutnya barusan.
"Belum dikasih uang sama suami katamu barusan, 'kan? Kalau udah kasih, mau langsung ditransfer?" Aku menatap lurus perempuan itu. "Disuruh orang tuamu buat minta uang sama saya?"
"Enggak gitu, Mas. Barusan itu say— "
"Masih aja ngeles!" decakku lagi. "Buat Mama kamu?"
Ayu menggeleng. "Buat biaya pengobatannya Papa. Saya nggak bermaksud manfaatin kamu, Mas. Saya belum gajian, makanya asal jawab aja barusan sama Mama."
Aku mencebikkan bibirku. Sama sekali tak mempercayai ucapannya. Sudah jelas sekali sikap baiknya karena menginginkan sesuatu dariku. Dia tak lagi kaya seperti dulu, jadi dia tentunya harus memutar otak untuk mendapatkan yang dia butuhkan. Dia cinta uangku ceritanya?
"Enggak bisa dipercaya."
"Terserah kamu aja." Perempuan itu beranjak berdiri.
"Mau ke mana kamu? Main kabur aja?" Aku mencekal pergelangan tangannya yang hendak melewatiku. "Saya masih mau ngomong sama kamu."
"Mau ngomong apa lagi, Mas? Apa yang keluar dari mulut saya, kamau nggak akan percaya. Saya salah terus di mata kamu."
"Butuh berapa?"
"Enggak usah."
"Bukannya kamu bilang papanya kamu butuh untuk pengobatannya? Enggak usah gengsi begitu."
Ayu kembali menggeleng. "Saya mau coba cari pinjaman sama teman kantor aja."
"Apa kamu bilang? Cari pinjaman uang sama teman kantormu? Kamu mau bikin malu saya sebagai suami? Beberapa orang penting di kantormu diundang kemarin, dan tahu pastinya jika kamu menikah bukan dengan laki-laki miskin. Butuh uang berapa kamu?"
"Saya akan pikirkan sendiri nanti jalan keluarnya." Perempuan itu melepaskan tanganku dari pergelangan tangannya.
"Butuh berapa?" Aku tak membiarkannya pergi begitu saja. Ya kali membiarkan istri mencari pinjaman kepada orang lain, yang akan membuat harga diriku rendah. Walau aku menikahinya untuk membuatnya tak merasakan kebahagiaan, tetap saja aku tak ingin namaku buruk di luar sana. "Kirimin nomor rekening kamu sekarang. Saya ambil HP dulu dan kamu tunggu di sini, duduk lagi. Masih ada yang mau saya bicarain sama kamu."
Aku berbalik badan, menuju kamar untuk mengambil ponselku. Kemudian, kembali lagi ke arah belakang dengan ponsel di tangannya. "Kenapa belum dikirim juga?" tanyaku ketika belum mendapati notifikasi darinya, sementara dia sedang memegang ponselnya dari tadi.
Perempuan itu menggeleng. "Saya enggak mau dibilang manfaatin kamu."
"Is that so?" Aku terkekeh sinis. Sudah ketahuan begitu, gengsinya masih saja selangit. Begini nih aslinya dia, sombong. "Kirimkan nomor rekening kamu sekarang! Saya mau kasih nafkah buat kamu, nanti sorean lagi belanja bulanan. Saya besok langsung masuk kerja dan kamu harus menyiapkan makanan. Belum ada apa-apa di dapur dan isi kulkas masih kosong, 'kan? Kamu harus belanja sekarang, untuk persiapan sarapan saya. Saya udah bilang, saya lebih suka masakan rumah, baik itu sarapan atau menu makanan lainnya untuk lauk."
Ayu tampak bergeming.
"Hey? Kamu enggak dengar apa kata suami kamu? Sebutkan nomor rekening kamu itu!"
Perempuan itu baru bersuara lagi, menyebutkan nomor rekeningnya.
"Udah saya transfer, cek aja. Itu selama sebulan kebutuhan rumah tangga dan silahkan kalau kamu mau kasih orang tua kamu juga." Perempuan itu memanfaatkanku? Aku ta sebodoh itu bisa dimanfaatkan. Harus ada sesuatu yang harus perempuan itu lakukan tentunya, nanti akan aku pikirkan.
"Kok banyak banget, Mas?"
Aku transfer uang sebesar 25 juta rupiah untuk sekelas istri seorang CEO, banyak katanya? Menurutku nominal segitu biasa saja, tak banyak. Mungkin jika Ella yang menjadi istriku, aku akan memberikan jauh lebih banyak dari itu.
"Saya cuma butuh sekitar 5 jutaan aja buat Papa. Kalau untuk kebutuhan rumah, kayaknya enggak begitu banyak juga, termasuk belanja bulanan."
"Kamu juga harus merawat tubuh kamu. Ingat, saya butuh tubuh kamu agar hamil, bisa memberikan keturunan untuk saya."
"Saya memang belum pernah perawatan begitu, tapi kayaknya enggak begitu banyak? Saya udah putih dan— "
"Putih, tapi terawat nggak tubuhnya kamu? Saya ingin nantinya kamu melayani saya dengan tubuh yang terawat bersih." Kulitnya memang putih, tapi kan tidak tahu apa di dalamnya terawat atau tidak. Bisa saja hanya sekedar cantik dari luar saja.
Perempuan itu tak menyahut lagi.
"Jam 5'an nanti kita keluar belanja bulanan. Sekalian, makan malam di luar juga. Saya sedang ingin makan di luar malam ini."
***
Aku memperhatikan gerak-geriknya Ayu yang tampak luwes memilih jenis sayuran dan lauk mentah di sebuah supermarket. Sepertinya sejak pindah tak lagi tinggal di rumah besar, kehidupannya berubah. Mungkin karena tak ada lagi asisten rumah tangga, jadi mulai mengerjakan tugas rumah dan memasak juga.
"Kamu nggak makan nasi kalau pagi, Mas?" Ayu berbalik badan menghadp padaku seteah mengambil sayuran lagi.
"Kadang makan, tapi weekend. Jarang-jarang, sekedar nasi goreng paling."
"Oke."
"Sekalian beli buah juga."
"Iya."
Aku menghela napas. Dia ini selalu saja sering menunjukkan senyum padaku. Apa maksudnya? Berharap aku baik juga gara uang mengalir lancar padanya?
Aku ikut mengambil beberapa jenis buah.
"Sekali seminggu, kamu harus stok buah."
"Noted, Mas. Nanti saya catat apa aja yang dibutuhkan. Apa yang biasa kamu konsumsi."
"Hmmm." Setelah membeli buah, aku mengikutinya dengan mendorong troli ke bagian daging dan ikan. "Kamu bisa masak apa aja emang?" tanyaku begitu berada di dekatnya.
"Semua bisa." Perempuan itu kembai menunjukkan senyumnya, yang aku sebal sekali melihatnya. Cantik sekali memang ketika tersenyum begitu, seolah sengaja ingin menarik perhatianku. "Tapi enggak tahu soal rasanya bisa diterima di lidahnya kamu atau enggak. Kan selera masing-masing orang itu berbeda. Jika di rumah saya semua bisa menerima masakan saya dan bilang enak, belum tentu kamu juga akan merasakan hal yang sama."
"Oh, kamu makan makanan fast food gitu nggak? Yang frozen tinggal goreng aja kayak nugget dan sejenisnya?"
"Nggak." Aku memang tak makan begituan, kecuali dulu ketika tinggal di luar negeri. Sesekali makan, jika tak ada makanan lain.
"Noted. Nanti kasih tahu saya, ya, apa yang kamu enggak suka. Biar saya enggak salah nyediakan makanan buat kamu."
"Ya."
Ada sekitar 1 jam kami berbelanja dan setelahnya menuju salah satu resto sekalian di jalan menuju ke rumah. Baru saja keluar resto dan memasuki mobil, hujan turun dengan derasnya.
"Mas, pelan-pelan aja bawa mobilnya, ya? Jangan ngebut biar cepat sampai. Enggak apa lama juga."
Aku seketika menoleh.
"Merasa bersalah lagi hujan waktu itu ngebut udah nabrak orang? Jadi, mau nasehatin saya sekarang? Ck... "
"Asal kamu tahu, saya enggak ada ngebut waktu itu. Kalau saya bilang tiba-tiba dia nyelip dan saya kaget, apa kamu akan percaya? Enggak, 'kan? Mas, saya hanya mengingatkan untuk hati-hati aja, enggak sok menasehati. Karena kadang walau kita udah hati-hati pun di jalanan, belum tentu aman sampai tujuan. Takdir Tuhan enggak ada yang tahu."