Bab 17 — Segera Hamil

1488 Words
Ayu's PoV Mau aku memberikan alasan apa pun, Rakha tak akan percaya karena mendengar apa yang aku bilang barusan kepada mama. Aku bilang saja terus terang, jika memang membutuhkan uang untuk pengobatan papa dan aku sedang memegang uang. Responnya yang seolah meledek, harus aku terima. Namun, dia tersinggung saat aku bilang yang mencari pinjaman pada orang kantor. Lelaki itu meminta nomor rekeningku, untuk transfer uang kebutuhan katanya. Aku terkejut saat dia transfer uang sebesar 25 juta rupiah, tiga kali lipat lebih sedikit dari nominal gajiku 8 juta per bulan. Mungkin uang segitu tak ada apa-apanya bagi lelaki itu, tapi bagiku sangat banyak sekali. Untuk kebutuhan sehari-hari di rumah, tak akan banyak. Untuk membeli kebutuhan dapur, tak akan habis banyak karena kami hanya berdua di rumah ini. Rakha memintaku untuk perawatan tubuh juga. Aku belum pernah, tapi sepertinya tak akan banyak. Paling luluran dan body spa serta merawat bagian kewanitaan saja. Kulitku sudah putih dan tak memiliki masalah apa pun dengan bagian tubuhku serta mukaku juga. Dari dulu tak pernah pakai cream aneh-aneh, dan kulit wajahku begitu-begitu saja. Mungkin nanti suatu saat aku akan melakukan perawatan, jika memang aku rasa perlu. "Terima kasih banyak, Mas. Saya akan mengelola uang yang kamu kasih setiap bulannya dengan baik." Aku tersenyum, meski pun sakit atas tuduhan yang bilang aku memanfaatkannya, tapi setidaknya dia masih tetap memberikan uang yang nominalnya tak sedikit. Walau membenciku, dia tetap mencantumkan akan memberikanku nafkah di dalam surat perjanjian. Mungkin benar kata Inka, Rakha ini sebenarnya baik. Hanya saja ada rasa kecewa, marah tak terima dan ingin membalas dendam. "Butuh laporan setiap bulannya kah? Kalau iya, saya akan bikin nanti." "Enggak usah! Saya bukan orang yang perhitungan, asal kamu bisa memanfaatkannya dengan baik." Aku mengangguk. "Ya udah, Mas, saya mau ke kamar dulu beres-beres. Kemarin ini baru rapihin kamar kamu aja." Aku menginap di sini 2 hari sebelum menikah, sekalian merapihkan pakaian dan barang-barangku. "Ya. Nanti jalan jam setengah lima'an aja." "Oke." Di dalam kamar, aku langsung menutup pintu. Aku mengotak-atik ponselku, mengirimkan uang sebesar 5 juta rupiah kepada mama. Layar ponselku menampilkan panggilan masuk dari mana setelah pesanku dibaca. “Udah barusan ya, Ma.” “Lima juta doang transfernya? Nggak ada lebihan? Ada yang harus Mama beli soalnya. Kurang kalau cuma 5 juta, lebih dikit doang dari sisa biaya berobat papamu.” Aku mendesah, tapi bagaimana pun sulit untuk menolak. “Ya udah, aku transferin 1 juta lagi.” “Tiga juta lagi dong! Uang segitu pasti enggak ada apa-apanya bagi suami kamu. Kamu pasti dikasih uang bulanan banyak, ‘kan? Halah, dia itu kelihatannya aja yang sok dingin sama kamu, padahal naksir sama kamu yang cantik begitu. Makanya, dia maksa buat nikahin kamu.” Mana ada begitu? Naksir dari mananya? Yang ada, sorot matanya menatapku penuh kebencian. Ya kali naksir dengan seseorang yang menjadi penyebab dirinya kehilangan calon istri sesungguhnya. “Nggak gitu, Ma.” “Jujur sama Mama, dikasih berapa kamu uang bulanan?” “Enggak ada banyak. Ya… gitu, karena emang aku ini mempelai pengganti yang nggak dia cintai. Jadi, dia ngasih ala kadarnya aja. Syukur-syukur aku dikasih.” Aku terpaksa harus berbohong. Jika aku beritahu, mama pasti meminta lebih banyak dan bilang jika kebutuhan sehari-hari tidak lah banyak. Tidak, aku tak mau Rakha tahu jika aku memberi banyak kepada orang tuaku. Dia bisa-bisa tambah cap jelek diriku, yang dikira memanfaatkannya. “Aku transfer 2 juta lagi aja ya, Ma. Ini juga aku pakai uang kebutuhan, nantinya akan ganti pas gajian.” Terdengar dengusan mama di seberang sana. “Ya udah, transfer sekarang!” “Sebentar.” “Yu, dengerin Mama, ya! Kamu tuh harus bisa ngambil hatinya suamimu itu. Bikin dia betah berada di sisi kamu. Nanti juga lama-kelamaan dia cinta, dan mau ngasih apa pun buat kamu tanpa kamu minta juga. Yang pintar dong!! Move on dari mantanmu itu. Ingat, sekarang udah punya suami dan nggak boleh ingat-ingat lagi orang yang udah enggak ada.” Aku mendengar dengan geleng-geleng kepala sambil mengotak-atik ponselku. “Udah aku transfer, Ma.” “Ya, makasih. Ingat-ingat pesan Mama barusan. Kamu harus bisa luluhin hati suami kamu itu. Jangan disia-siakan!” “Iya.” Berbicara dengan mama, tak jauh dari uang ujung-ujungnya. Terbiasa hidup enak sebelumnya, mama seolah sulit menerima jika sudah tak seperti dulu lagi. Sudah beberapa tahun berjalan padahal. Positifnya, mama tak meninggalkan papa. Masih tetap bertahan, meski sering mengoceh. Aku lah yang sering jadi sasaran empuknya. Tidak dengan Disa, tak ada mendapat ocehannya. Aku terima semua itu. Mereka membayar mahal untuk membesarkanku dari bayi. Aku juga selalu sekolah di tempat yang bagus hingga dikuliahkan, jadi sudah seharusnya aku membayar jasa mereka yang tak terhitung. Apa lagi dulu waktu kecil, aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku menghembuskan napas pelan, lalu meletakkan ponsel. Harus menjalani setiap chapter kehidupan yang dar der dor, ada-ada saja kejutan yang tak terduga. Seperti saat ini, menikah dengan seseorang yang tak aku kenal sebelumnya. Tak berlarut memikirkan mama, aku membersihkan kamarku. Setelahnya, aku rebahan sejenak. Hingga ternyata aku ketiduran dan terbangun ketika mendengar ketukan pintu. Aku melihat jam di dinding dan mataku membola karena sudah menunjukkan pukul setengah lima. Aku segera beranjak dari tempat tidur, membuka pintu. Begitu pintu terbuka, Rakha menatapku dengan alis terangkat. “Maaf, Mas, aku ketiduran.” Lelaki itu berdecak. “Saya bilang tadi apa? Kamu itu di sini bukan buat leyeh-leyeh! Ingat akan tugas dan isi rumah yang harus dipenuhi.” “Iya, maaf. Saya mandi sebentar, tunggu 10 menit. Saya akan langsung turun. Atau, saya aja yang sendirian belanja bulanannya? Enggak apa-apa.” “Nggak dengar apa kata saya tadi? Saya sekalian ingin makan malam di luar.” “Ya udah, tunggu sebentar aja ya, Mas.” “Nggak usah dandan!” “Enggak, kok. Aku nggak suka dandan juga.” Aku tersenyum, lalu menutup pintu di saat lelaki itu langsung berbalik badan begitu aja. *** Kalau dilihat-lihat, perlakuan Rakha tak terlalu kejam juga. Dia masih mau menemaniku belanja bulanan tanpa diminta, juga memberikan uang bulanan begitu saja walau mendengar apa yang aku sampaikan pada mamaku. Hanya saja, mulutnya lekaki itu begitu pedas. Tapi entah lah, aku tak berani menduga-duga. Ini baru hari kedua kami sebagai suami istri, tak tahu bagaimana setelah hari ini. Tiba di rumah usai berbelanja dan makan, aku merapihkan belanjaan tadi sendiri. Akan tetapi, dia turut membawakan barang belanjaan yang tak sedikit itu ke arah dapur. Setelahnya, dia pergi dan aku menyusun barang-barang yang telah dibeli sesuai tempatnya. Dia kembali beberapa saat kemudian setelah aku selesai merapihkan segalanya dan duduk di kursi makan sejenak, sebelum menuju ke kamar di lantai atas. “Kamu jadi cuti 2 hari?” Lelaki itu menarik kursi di sebelahku setelah mengambil segelas air dingin dari dalam kulkas. “Iya, Mas. Besok setelah kamu berangkat, saya akan ke rumah ambil mobil sebentar.” “Masih aja mobil itu,” dengus lelaki itu. “Ke mana aja kamu besok? Ingat kamu udah jadi istri orang, jaga sikap di luar sana.” “Saya mengerti. Besok saya cuma ke rumah aja, langsung balik ke sini lagi. Kamu besok mau dianterin makan siang ke kantor? Saya masakin kalau mau.” “Enggak usah. Masak buat saya pulang kerja aja.” “Oke.” “Rumah harus selalu rapih dan bersih, jangan lupa itu. Kamu di sini bukan untuk bersenang-senang, tugasmu harus dikerjakan setiap harinya.” “Iya, Mas. Oh ya, saya mau catat apa aja pantangan makanannya kamu. Dan apa makanan kesukaan kamu.” Lelaki itu pun menyebutkannya dan aku mencatat pada bagian note di ponselku. “Ayu… “ “Ya?” “Saya serius dengan isi surat itu. Saya menginginkan seorang anak.” Aku mengangguk, sudah mempersiapkan diri untuk segalanya. Melayani hasratnya, hamil dan melahirkan anak untuknya. Menjadi seorang istri, tentu harus siap dengan itu semua. “Iya, nggak apa-apa. Wajar udah menikah dan punya anak.” “Tapi, saya nggak mencintai kamu. Saya benci sama kamu.” “Enggak masalah, tetap membenci aja.” “Jangan pernah berharap lebih dengan pernikahan ini.” “Saya mengerti, Mas. Enggak ada saya berani berharap lebih, hanya menjalankan apa adanya kewajiban saya sebagai istri.” “Jika suatu saat nanti saya menyukai seseorang, kamu nggak boleh ikut campur.” “Iya.” “Tidak dengan kamu, yang nggak boleh dekat dengan siapa pun selama menjadi istri saya. Karena sejak hari kecelakaan itu, hidupnya kamu ada di tangan saya. Kamu harus menurut aturan saya, tapi kamu nggak punya hak untuk mengurusi kehidupan pribadi saya. Mengerti kamu?” “Saya mengerti.” “Bagus. Jangan sampai kamu nggak tahu diri dengan posisimu.” Aku mengangguk. Aku tahu tujuannya menikahiku hanya untuk menyerang mentalku, aku terima segalanya. Konsekuensi atas kesalahanku meski tanpa disengaja. “Besok atau lusa, jangan lupa lakukan perawatan tubuh. Saya ingin kamu segera hamil. Dan ya, saya ini laki-laki normal. Meski pun nggak menyukai kamu, tapi saya masih punya hasrat seksual terhadap orang yang nggak saya sukai pun. Bisa berhubungan tanpa ada rasa cinta di dalamnya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD