Setelah mengetahui Kania mengandung janin mungil di rahimnya, Edward berubah menjadi bayangan yang selalu mengintai setiap langkah istrinya itu. Hatinya berdetak tak henti, dihantui kenangan pahit yang pernah mengoyak Kania dulu—peristiwa kelam yang dia yakini adalah noda hitam pertama sekaligus terakhir dalam kisah hidup mereka. Rasa bersalah menggerogoti jiwanya, menyisakan tekad baja untuk menjaga nyawa di dalam perut itu dengan perlindungan penuh, tak peduli dia harus menjadi sosok yang terlampau waspada bahkan terkesan overprotektif. "By, aku bisa jalan sendiri. Kamu nggak usah tuntun aku sampai begini," kata Kania sambil tersenyum lembut, menepis cemas Edward saat mereka baru saja tiba di depan gedung perusahaan. Suaranya meyakinkan, sekaligus meredam ketakutan suaminya. "Kamu deng

