Kania duduk dengan wajah serius, tenggelam dalam pikirannya yang gelap tentang pekerjaan. Tak hanya dia, semua karyawan di perusahaan itu turut menanggung beban tugas masing-masing. Namun, ada beban lain yang terlihat jelas di bahunya — sesuatu yang membuatnya terpaku, tanpa sepatah kata keluar dari bibirnya. Sherly, yang menyadari perubahan sikap itu, segera mendekat dengan langkah pelan penuh kekhawatiran. Tangannya menggenggam sebuah gelas berisi air, yang disodorkan dengan penuh perhatian. "Bu Kania, minum dulu, ya. Pasti capek banget, 'kan?" Suaranya lirih, penuh kehangatan yang sulit disembunyikan. Kania mengerutkan dahi. "Sherly, kamu nggak usah ribet begitu. Aku baik-baik saja, kok. Kalau haus, aku bisa ambil minum sendiri," ujarnya, suara itu seperti dinding pembatas di antara m

