Meski tubuhnya masih rapuh dan napasnya berat, Arya nekat memacu mobil sendiri, bertekad pulang langsung ke rumah tanpa singgah ke perusahaan. Setibanya di depan pintu, suara langkah kakinya yang terseok-seok tak luput dari pandangan tajam Elisa, yang berdiri menunggu dengan mata menyala-nyala penuh kemarahan. Namun, belum sempat ibunya melontarkan kata-kata, Arya mengangkat tangan dengan lembut, memohon dalam sunyi yang penuh tekanan. "Tolong, Ma. Kali ini Mama jangan marah dulu," ucapnya dengan suara parau, bibirnya gemetar menahan beban rahasia yang dipendam. "Aku tahu, aku salah karena nggak bilang sama siapa pun termasuk Mama, bahkan Om Edward dan semua orang di kantor nggak tahu aku pergi hari ini. Tapi percayalah, aku punya alasan kuat." Elisa menghela napas panjang, dadanya sesa

