Keheningan merambat tajam di antara mereka. Tak satu pun dari Arya maupun Renata berani membuka suara, membantah kata-kata Kania yang mengiris kalbu. Edward sendiri terdiam, merasa takjub oleh kejutan yang tak tertuga—tak pernah menyangka istrinya akan melontarkan kalimat pedas yang seakan mencabik-cabik hati yang ditujunya. Kania merasa sudah tak mampu menahan dirinya lebih lama lagi. Sebab itu lah, dengan suara tegas dan dingin, dia mengukuhkan batas tak tergoyahkan, melarang Arya dan Renata lagi-lagi mencoba merusak hubungan dirinya dan Edward. Setelah itu, Kania dan Edward berlalu, meninggalkan Arya dan Renata yang masih terperangkap dalam diam. Air mata yang terpendam menghiasi wajah Arya, tidak dengan Renata yang menyimpan rasa emosi di dalam hatinya. Renata mendesah kesal, menata

