Keesokan paginya, Zorion bangun cukup siang karena malas beranjak dari ranjangnya yang hangat. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya bagaikan perisai dari dinginnya dunia di luar rumahnya. Melalui kaca berlapis embun beku, dia bisa melihat dedaunan pinus tertutup kristal putih dan langit kelabu yang masih mengguyurkan serpihan salju cukup deras. Suara angin berdesir pelan, nyanyian pengantar tidur yang hampir berhasil merayunya untuk kembali terlelap lagi. Tapi kemudian, sebuah ingatan menyelinap ke dalam benaknya yang masih setengah sadar. Seorang wanita. Dia langsung duduk tegak di tempat tidur, rambut gelapnya yang berantakan menutupi sebagian matanya yang baru terbuka. Ya, semalam. Badai salju yang cukup lebar, dan seorang wanita asing yang mengetuk pintunya di beranda rumah

