Diandra

1773 Words

Pagi itu suasana kota masih sedikit tenang ketika Haris sudah duduk di ruang kerjanya di rumah sakit. Matahari baru naik separuh, namun meja kerjanya sudah dipenuhi dokumen, layar laptop menyala, dan beberapa ponsel tergeletak di sampingnya. Di layar laptop, puluhan artikel berita terbuka. Judul-judulnya tidak berbeda jauh. Tentang Syafira. Tentang Alvin. Tentang dirinya. Namun Haris membaca semuanya tanpa ekspresi. Satu-satunya tanda bahwa dia marah adalah cara jari telunjuknya mengetuk meja kayu dengan ritme lambat. Di depannya duduk seorang pria paruh baya dengan setelan abu-abu mahal. Pengacara keluarga. Pria itu menutup map yang dibawanya. "Dokter Haris," katanya tenang. "Ini sudah masuk kategori pencemaran nama baik." Haris mengangkat pandangannya. "Seberapa kuat kasusnya?" "Sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD