Hot

1863 Words

Rumah itu kembali sunyi setelah Haris pergi. Suara mesin mobilnya menghilang di ujung jalan, meninggalkan Syafira yang berdiri di ruang makan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada rasa aman karena Haris tidak memarahinya. Tapi justru karena itu, rasa bersalahnya semakin besar. Leonel masih memegang tangan ibunya. "Ma..." "Iya, Sayang?" "Papa kerja lagi ya?" Syafira mengangguk pelan. "Iya, Nak. Kenapa?” Leonel menunduk sebentar, lalu berkata lirih, "Papa capek banget akhir-akhir ini. Kasihan, Papah…” Kalimat itu membuat d**a Syafira terasa diremas. Anak kecil itu mungkin tidak mengerti skandal, berita, atau pengkhianatan. Tapi dia bisa merasakan perubahan suasana rumahnya. Syafira mengusap rambut Leonel. "Papa kamu itu papa yang hebat…” Leonel mengangguk, lalu berjalan pelan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD