“Sayang, kenapa menangis?” Raka menarik tubuh istrinya dalam pelukannya. “Maaf,” Citra membenamkan wajahnya ke dalam dekapan suaminya. Ada begitu banyak sesal menggerogotinya. Tersebab emosi sesaat, dia langsung percaya begitu saja semua pesan yang masuk ke dalam ponselnya hari itu. Padahal Citra tahu benar, sejak dulu ketika pertama kali mengenal Raka pun, ia sudah diganggu pesan-pesan tak dikenal. Membayangkan bagaimana suaminya berusaha mengatasi segala masalah sendirian, membuatnya merasa begitu bersalah. Dia yang terlampau sibuk dengan lukanya sendiri, tak terpikirkan bahwa suaminya membutuhkan supportnya lebih dari siapapun di dunia ini. “Sayang, kenapa?” “Abang kemana aja dua tahun ini?” Raka menghela napas. “Kerja. Nyari kalian. Beresin masalah. Maaf ya, harusnya aku bisa men

