“Aduh, Mas…” Dita terkekeh, memalingkan wajah sambil menyembunyikan senyum yang kian mekar. Tapi suaminya tidak berhenti. “Cium juga….” Dita menoleh, matanya masih menertawakan tingkah manja suaminya. Ia lalu merangkul pipi Bram dengan kedua tangannya, jemarinya yang halus mengusap rahang yang sempat mengeras karena amarah tadi. Ia mendekat, mengecup ringan bibir Bram. Tapi siapa sangka, hanya sedetik setelah itu, ciuman mereka melebur dalam sentuhan yang lebih dalam, panas, perlahan, tapi menyala. Bram menyambutnya seperti menunggu pulang yang lama. Dita pun tenggelam dalam dekapan hangat itu, membalas setiap lumatan bibir suaminya dengan napas yang perlahan terengah. Aroma tubuh Bram, dingin kulitnya, dan genggaman tangannya yang menahan pinggang Dita… semua terasa seperti rumah yang

