Dua Sisi-2

709 Words

Dita langsung berdiri dengan senyum mengembang. Kandungannya yang membuncit membuat langkahnya melambat, tapi ia tetap berlari kecil menyambut suaminya. Perutnya yang memasuki minggu ke-18 dan kembar membuat geraknya tak selincah dulu, tapi raut bahagianya tetap tak tertahankan. “Kita pulang dulu ya, Ran. Duluan ya.” Tangan Bra, menyentuh punggung Dita pelan, memastikan tak ada gerakan yang menyakitkan istrinya, dan membawanya keluar ruangan lalu menunduk sedikit mencium dahi perempuan itu. “Lelah?” bisiknya. Dita menggeleng. “Senang,” jawabnya singkat, sebelum keduanya berjalan perlahan menuju lift, menjauhi ruangan. Rania yang menyaksikan itu dari tempat tidurnya hanya tersenyum. Tasha pun ikut menghela napas, tapi matanya masih tertuju pada pintu yang baru saja tertutup. “Lo keliha

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD