Langkahnya ragu, tetapi tetap ia ayunkan. Sepatu sneakersnya menapak aspal yang mulai basah oleh gerimis. Jalanan kecil ini membentang seperti lorong gelap tak berujung. Di kiri-kanan hanya pagar-pagar kosong, sesekali terlihat rumah tua yang jendelanya seperti tidak pernah dibuka lagi. Dan seperti plot dramatis yang tak ia minta, gerimis berubah jadi hujan lebat dalam sekejap. Tasha berlari kecil, menahan jaket menutupi kepalanya sambil menyipitkan mata menembus derasnya air. Napasnya memburu, lututnya mulai lelah. Hingga akhirnya ia melihat… halte angkot! Tua, reyot, penuh lumut, dan menyisakan bau lembab yang menusuk hidung. Tapi tempat ini satu-satunya perlindungan saat ini. Dengan tubuh menggigil, Tasha duduk. Bahkan tidak peduli bangkunya lembab atau bekas siapa. Ia memeluk tubuh

