Tasha menggeleng pelan, lalu semakin kuat. “Gue nggak peduli. Mereka semua pengen bayi itu. Mereka bisa rawat. Bisa peluk. Bisa banggakan. Tapi gue? Gue nggak bisa nyentuh anak yang dari awal pun bukan keinginan gue.” Dita membenamkan wajahnya ke telapak tangan sesaat, lalu mengangkat kepala dengan mata merah. “Lo denger ya, kalau mereka jaga bayi itu baik-baik, syukur. Tapi kalau nggak? Kalau anak lo nanti disiksa secara psikis? Ditaruh di kamar emas tapi dicuekin? Lo tau sendiri keluarga elite tuh bisa kejam dalam bentuk yang paling sopan.” Tasha hanya mendecih. “Mereka pengen bayi ini. Buat warisan, buat garis darah, buat apa pun. Mereka bakal jaga. Lo pikir mereka mau bayi ini cacat atau kenapa-kenapa? Lo pikir Varrel bakal biarin anaknya diapa-apain?” “Gue nggak percaya sama lo,” g

